Ujian Genin Dimulai





“Hah? Tiga kali!?” Aku mayan kaget pas pertama kali denger. Saat itu kami sedang audiensi dengan kaprodi dan sekprodi. Di forum itu membahas banyak hal, salah satunya kami harus melewati tiga tahap ujian untuk lulus.

Nah setelah melewati keribetan birokrasi yang seperti hewan, berbelut-belut, sampailah pada fase bimbingan. Drama bimbingan mah di mana-mana sama aja ya. Janjian sama dosen, dimarahin, ditinggal luar kota. Untung gak ditinggal pas lagi nunggui balasan chat.
huhu
Seperti kata pepatah, tak ada jerawat yang hilang dalam sekali pakai sebuah produk. Pepatah mana nih hhh
Gak ada yang maju bimbingan langsung di ACC kan. Makanya aku ngakak pas liat komik tahilalats yang ini

Yang ada malah dibantai. Asli, pembimbing satu aku ini terkenal keras soal tulisan. Wajar sih, beliau Kapuslit alias Kepala Pusat Penelitian. Tulisannya juga nembus jurnal internasional. Melihat tulisanku sekilas aja sudah tau kalau itu sampah

Maju kan aku, biasa ditanya. Ini judulmu maksudnya apa? Mau dibawa kemana?
Aku jawab seperti yang sudah kuhafalkan semaleman. Tanggapan bapak dosbing? Yak seperti yang sudah bisa ditebak. Langsung dihabisi. Judul aku juga dipreteli. 
Tapi bapaknya baik, meskipun dihabisim beliau nunjukin juga bagian yang salah mana. Beneran dibimbing, gak cuma marah-marah doang. Cuma proses ngebimbingnya agak terkesan marah. Hehe 

Ketemuan pertama hampir satu jam dan didominasi oleh rintihan dari dalam hati aku. Huhuhu. Di akhir bimbingan kutanya beliau suka model bimbingan seperti apa? Suka ditelpon? Wasap? Atau samperin langsung.
“yang penting kamu selesaiin dulu.”
(dalam hati): “lah iya kalau sudah selesai gimana mau ketemu bapak biar bapak nga marah? Hemm?”
(yang terucap): “baik, pak, terima kasih

Tahap pertama, suruh bikin itu proposal penelitian. Di depan dosbing mengiyakan, di belakang dosbing, “Gawe proposal kuwi piye carane.”
Tepat setelah judul diterima, mahasiswa dikasih buku panduan penyusunan tesis. Dalam buku panduan tertulis, proposal tebalnya 20-52 halaman. Buku panduan juga ngajarin cara bikin proposal. Tapi buku panduan tidak mengajari cara mendekati dedek semester 5.

Yah namanya otak aku yang agak siwer, suka gak mudeng baca panduan. Lebih mudeng kalau dijelasin, atau liat proposal yang udah jadi. Maka aku nunggu temen-temen yang sudah ACC proposal, kubaca, kusalin formatnya.
Mudeng?
Lumayan lah.
Nah kalau gak ada temen yang di ACC? Yaudah nangis aja, alias nunggu. artinya gak ada yang ngerjain. Kalau gak ada yang ngerjain berarti gak ada yang lulus. Berarti aku gak sendirian buat gak lulus. Mental be laik gak mama menderita asal nga sendirian.

Perlu waktu tiga bulan buat proposalku di acc dua dosbing. Setelah proposal di acc, mesti diujiankan alias ujian seminar proposal. Inilah ujian tahap pertama dari 3 tahap tadi. Mari kita sebut ujian ini dengan ujian genin. Kenapa? Ya gak mama, ini adalah jalan ninjaku, kalian harus setuju aja, tinggal baca doang ini.

*

Ujian seminar proposal itu ujian di mana aku menyeminarkan proposal aku. Waw penjelasan yang luar biasa.
Ujian proposal terdiri dari 4 penguji, komposisinya satu ketua sidang, satu sekretaris, satu pembimbing, satu penguji. Ada aku juga dong, masa aku gak ikutan.
Tanggal ujian genin aku ditetapkan. 21 April 2017. Wah ujiannya kapan, ngepost-nya kapan. Udah hampir setahun aja. Lagi lucu-lucunya nih, merangkak kesana kemari dan tertawa. 

Aku datang setengah jam sebelum dimulai. Masuk ruang ujian, dan mulai siapin presentasi. Anjay mendadak ada dentuman dalam dada, getaran di kaki, dan nafas yang tidak teratur. Kucoba segala cara untuk meredam itu. Berdiri, jalan, lompat-lompat.
Iya bisa lompat-lompat, kan di ruang ujian cuma ada aku. Gak ada temen yang ngedampingi. Sedih? Gak juga. Sengaja memang gak koar-koar. Tambah grogi kalau ditontonin.

Pas aku lagi nyiapin laptop. Aku bingung, kok gak ada proyektornya? Aku tengok kanan kiri, gak ada. Aku nunduk ngintip bawah meja, gak ada. Akhirnya aku turun ke ruang kaprodi. (ruang ujian lantai 3, ruang kapordi lantai 1)

“eh, Tomi, gimana, udah siap?” sapa kaprodi, ramah. Seperti yang udah aku ceritain di sini, kaprodi jadi pembimbing 2, dan ikutan nguji. Tampilan beliau udah pake jas. Liat gitu makin grogi.
“nganu, pak, kok proyektornya gak ada ya?”
“hah? Masa sih? Masa dicuri?” beliau seketika meluncur ke ruang ujian. Meniti tangga dengan langkah yang cepat. Aku ikut di belakangnya. “gawat ini, ujian kan sebentar lagi.”
Sampai di ruang ujian, dengan napas agak tersengal. Beliau berkata, “lah itu apa?” menunjuk ke atas. Proyektornya nempel di eternit. Ya Allah tengsin akutu…

“lah iya ya pak.” Aku nyengir tidak tahu malu.
“ooooo dasar. kamu ini ngagetin saya aja.”
“maaf pak, tadi saya carinya sekeliling dan di bawah meja.”
“anggepmu pake proyektor yang ditaruh di atas meja, gitu?”
“ya, saya taunya gitu, pak.”
“saya sudah ngos-ngosan ini lho.”
“maaf, pak, mungkin saya grogi. Sini saya kipasin.”
Awal yang kurang bagus. Ngerjain penguji huhu.

*

Pukul 08.30 tepat. Harusnya ujian sudah dimulai. Aku udah duduk di kursi pesakitan. Penguji juga udah stenbei. Baru tiga orang penguji. Ketua sidang gak kunjung datang, jadi gak bisa dimulai.
Wanjay jadi makin berasa banget hawa pembunuhannya. Satu ruangan isinya 4 orang, aku duduk menghadap 3 orang. Ada hening yang panjang.

Padahal ketua sidang ini dikenal disiplin banget soal waktu. Dulu pas ngajar ada anak telat 5 menit aja bisa dibahas selama setengah jam. Dulu beliau S1 dan S2-nya di Belanda. Katanya sih, orang bule sangat menghargai waktu.
Kami nunggu sekitar 15 menit. Bayangin, bosque, 15 menit dengan situasi seperti itu, hening dan mencekam, cicak berdehem aja kedengeran.

Ketika 3 penguji mau sepakat memulai tanpa ketua sidang, eh sang ketua sidang muncul dengan deru sepatu pantopel menumbuk lantai. Terdengar sayup-sayup back song power ranger. Persis jagoan yang siap menumpas kejahatan. Aku monsternya huhuh

Beliau duduk, napasnya tersengal-sengal. “maaf saya….hoshos….terlambat…hoshos….tadi saya….hoshos…habis ngajar…hoshos…padahal….hoshos…”
“udah pak ambil napas dulu, santai saja.” Kata dosbing
“tarik napas, embuskan.” Samber sekretaris sidang. Sementara penguji utama melakukan gestur kipas kipas.
“oke kita mulai..”

Ujian genin pun dimulai. Ketua sidang menyampaikan prolog. Lalu mempersilakan aku presentasi. Dikasih waktu 7 menit.
Aku membenarkan posisi duduk. Dengan sekali tarikan napas dalam, embuskan pelan seraya baca bismillah, aku ucapkan salam. Basa-basi, lalu cas cis cus. Lagi asik cas cis cus, eh dipotong “next” sama ketua sidang. Beberapa kali. Diingetin yang penting-penting aja. lah aku merasa penting semua ini. sampai akhirnya cas cis cus aku diakhiri sama beliau.
“saya rasa cukup, para penguji juga sudah baca proposal anda.”

Selain disiplin waktu, bapak ini sakti juga bisa tau para penguji sudah baca.
Ketua sidang lalu mempersilakan penguji buat kepo kepo ke aku, “waktunya 15 menit, bu, silakan.”
Penguji utama mulai tanya. Aku jawab seadanya. Nah lagi asik tanya-tanya eh hapenya bapak ketua sidang bunyi. Dalam hati aku kenapa nga si silent sih pak.

“yak udah cukup.” Kata pak ketua sidang mantap. Ternyata itu alarm. Heuheu. Dan udah dipotong aja itu ibu penguji utama lagi tanggung tanya padahal.
“yang menghentikan bukan saya, tetapi alarm. Tepat 15 menit.”
Mantap jiwa, disiplin waktunya.

Hal sama dilakukan ke penguji-penguji berikutya. Wqwq, aku yang tadinya sebel karena beliau telat, jadi mulai agak suka. Aku tau para penguji belum puas ngepoin aku. Akhirnya yang terjadi kaya wawancara, penguji tanya aku jawab, pertanyaan berikutnya, jawab lagi. gitu terus. Gak ada adu argumen. Gak ada pembantaian.
Endingnya, Selesai tepat satu jam sesuai jadwal, 08.30-09.30. tapikan aslinya mulainya mundur 15 menit yak. Heuheu. Tapi ya gimana lagi, ketua sidang yang berhak menentukan.

Kesenangan aku hanya sebentar. Karena catatan revisi seabreg. Suruh ngadep lagi ke masing-masing penguji. Ternyata ketidakpuasan para penguji karena menguji hanya sebentar, tetep harus tersalurkan dalam duel satu lawan satu di luar arena. Huhuhu
Ujian ditutup. Gak foto foto. Ya siapa juga yang motoin. Keluar ruangan juga nga ada yang nyabut. Kan gak ada yang nonton juga. Masa iya mau swafoto sama para penguji. Aku gak seberani itu.

Satu step sudah terlewat, hasilnya, Alhamdulillah, proposal aku diterima dengan revisi, dan penelitian bisa dilanjutkan. Udah jadi genin. Tinggal menjalankan misi. Lalu ujian berikutnya.
Tinggal dua step lagi. Kudu strong. Kuat dilakoni ora kuat tinggal ngopi.
Semarang, Mei 2017
Ujian Genin Dimulai Reviewed by Tomi Azami on 08:00 Rating: 5

6 comments:

  1. Kan cuma ditanya tanya kok takut y?
    Aneh kamu ini Om Om
    Lagian juga walau jawabannya salah g bakal dibunuh Om
    Tenang j santai

    ReplyDelete
  2. Endingnya wisuda tgl 7 maret 2018. Bareng aku. Hehehe kamu tau proyektor itu diambil siapa.. swaiper.. saat dora telat bilang swiper jangan mencuri.. proyektor nempel bisa sampe kagak tau...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hadehhh spoiler banget, sih. kan mau ngepost mipil sek. hadehh :(

      Delete
  3. hahaha, lama banget nga posting di blog nih mas Tomi, tau-tau udah wisuda S2.
    Selamat yaaa saiki ws dadi wong, wes wayaeh dawe uwong alias nggae anak alias nduwe bojo, alias rabi.

    eh btw, nga mau belajar cara mendekati mhasiswi smt 4 aja, nih? kiw kiw kiwww...

    ReplyDelete
    Replies
    1. jalan ninjaqu masi panjang~~

      mau dong hhhhh

      Delete

mau main balik gimana wong alamatmu gak ada

All Rights Reserved by Tomi Azami © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by MasalahTechno

Contact form

Name

Email *

Message *

Tomi Azami. Powered by Blogger.